Minggu, 01 Desember 2013

makna kata "terserah"



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Kata adalah kumpulan beberapa huruf yang memiliki makna tertentu. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam berbahasa. Dari segi bahasa kata diartikan sebagai kombinasi morfem yang dianggap sebagai bagian terkecil dari kalimat. Sedangkan morfem sendiri adalah bagian terkecil dari kata yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi lagi ke bentuk yang lebih kecil.
Secara etimologi Kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sanskertakathā. Dalam bahasa Sanskerta, kathā sebenarnya bermakna "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng"[2]. Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata".
Dari pernyataan di atas telah dijelaskan bahwa kata adalah satuan gramatik terkecil yang memiliki makna. Sedangkan pengertian makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984:19)
Kata-kata yang bersal dari dasar yang sama sering menjadi sumber kesulitan atau kesalahan berbahasa, maka pilihan dan penggunaannya harus sesuai dengan makna yang terkandung dalam sebuah kata. Agar bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, dimengerti, dan tidak salah penafsirannya, dari segi makna yang dapat menumbuhkan resksi dalam pikiran pembaca atau pendengar karena rangsangan aspek bentuk kata tertentu.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah kata memiliki makna yang terkandung didalamnya, begitu pula dengan kata terserah, walaupun kata tersebut memiliki makna yang jamak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian Multi Tafsir
Sebuah kata pastinya memiliki makna tersendiri yang terkandung didalamnya, makna adalah maksud yang disampaikan oleh penutur kepada lawan tutur. Berdasarkan unsur bahasa, jenis makna kata terdiri dari yang pertama, makna leksikal yaitu makna kata secara lepas, dan yang kedua yaitu makna gramatikal yang artinya makna yang timbul akibat proses gramatikal (afiksasi, reduplikasi, dan komposisi).
Berkaitan dengan hal di atas, sebuah kata juga memiliki makna tunggal maupun jamak, makna jamak itulah yang di sebut dengan multi tafsir.

B.     Pengertian Intonasi
Intonasi adalah naik turun atau tinggi rendahnya nada dalam pelafalan kalimat. Intonasi lazim dinyatakan dengan angka (1,2,3,4). Angka 1 melambangkan titi nada paling rendah, sedangkan angka 4 melambangkan titi nada paling tinggi. Penggunaan intonasi menandakan suasana hati penuturnya. Intonasi juga dapat menandakan ciri-ciri sebuah kalimat. Kalimat yang diucapkan dengan intonasi akhir menurun biasanya bersifat pernyataan, sedangkan yang diakhirnya dengan intonasi menaik umumnya berupa kalimat tanya.
Dalam http://yogi-blogs-sharing.blogspot.com/2013/01/pengertian-lafal-tekanan-intonasi-dan-jeda-dalam-bahasa-indonesia.html disebutkan pula bahwa intonasi adalah lagu kalimat. Intonasi juga merupakan paduan antara tekanan dan jeda yang menyertai suatu tutur dari awal hingga penghentian terakhir. Intonasi adalah tinggi rendahnya nada dalam pelafalan kalimat.Intonasi adalah tinggi rendahnya nada dalam pelafalan kalimat.Intonasi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya nada dan keras lembutnya tekanan pada kalimat.



C.    Pengertian Komunikasi, Penutur dan Lawan Tutur
Komunikasi adalah aktivitas sosial yang dilakukan oleh setiap penutur bahasa. Di dalamnya terdapat penutur dan lawan tutur yang bersama-sama membangun makna komunikasi agar komunikasi berjalan dengan baik. Wijana (2009:43) mengasumsikan bahwa dalam komunikasi yang wajar, seorang penutur mengartikulasikan ujaran kepada lawan bicara dengan maksud mengomunikasikan pesan dan berharap lawan bicaranya dapat memahami pesan itu. Untuk itu, setiap penutur selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan topik pembicaraan.
Berkaitan dengan hal itu, Barry (2008:138) melihat bahwa bahasa memiliki seperangkat prinsip yang mengatur bagaimana orang berinteraksi dalam percakapan, bagaimana bernegosiasi, bagaimana kesopanan bertutur, keintiman, bagaimana isyarat mengawali dan mengakhiri ujaran. Sebenarnya, orang yang terlibat dalam komunikasi selalu menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya dan penggunaan bahasanya. Allan (1986) mengatakan bahwa setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual (Wijana, 2009:43).
Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang menyatakan fungsi pragmatis tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam pentuturan. Di dalam peristiwa tutur peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti, yang semula berperan penutur pada tahap  tutur berikutnya dapat menjadi mitra tutur, demikian sebaliknya. Aspek-aspek yang terkait dengan komponen penutur dan mitra tutur antara lain usia, latar belakang sosial, ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat keakraban, dan sebagainya.
Penutur dan lawan tutur (petutur) atau yang menyapa (penyapa) dan yang disapa (pesapa). Istilah yang lazim digunakan adalah penutur dan lawantutur. Konsep ini juga menyangkut penulis dan pembaca jika tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Dalam hubungan antara penutur dengan lawan tutur, si lawan tutur bisa saja seseorang yang kebetulan lewat dan secara kebetulan mendengarkan pesan dan bukan termasuk orang yang disapa. Dalam hal ini, si lawan tutur tersebut berusaha mengartikan isi wacana hanya berdasarkan bukti kontekstual yang ada tanpa menjadi sasaran pesan si penutur. Aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, dan tingkat keakraban.



BAB III
METODELOGI

A.    Metode Penulisan
Dalam penyusunan artikel ilmiah ini, penulis menggunakan metode naratif sebagai acuan yang digunakan. Salah satu pergeseran yang paling penting dalam analisa naratif dimulai pada tahun 1960-an dengan ahli teori Perancis, Kristen Metz, yang membangun teori linguistik, termasuk juga Ferdinand de Saussure, yang membawa analisis struktural ke dalam ilmu pengetahuan film. Metz, bersama dengan Roland Barthes, menetapkan dasar untuk beberapa karya dalam aspek naratif, termasuk pergeseran ke arah analisa ceramah. Dengan mengadopsi metodologi dari bidang semiotics, Metz mulai mencari bagaimana bioskop bisa dikatakan sesuatu yang menandakan, atau menghasilkan suatu makna. Makna tersebut merupakan suatu proses dinamis yang tergantung pada material signifiers, yang (mana) untuk bioskop sendiri, meliputi representational gambaran, sebutan/judul, berbicara bahasa, memecahkan, dan musik dan cakupan mereka mengenai yang ditandai, atau makna denotative dan connotative. Signifying practice menjadi istilah untuk bagaimana film menceritakan sesuatu. Metz yang memulai dengan evaluasi cinematic dengan bahasa dan secara sistematis menggambarkan kode dalam karya-karya di bioskop, banyak seperti Roland Barthes dalam menggambarkan kode dalam literatur. Dengan S/Z (1970) khususnya, Barthes menunjukkan bahwa realisme tergantung di atas sistem textual, intertextual, dan extratextual kode. Analisa naratif harus meliputi merinci suatu kode arti/pengertian teks, tetapi juga melibatkan dan memperhatikan pembatasan dan konteks budaya.
Asumsinya adalah bahasa itu adalah suatu kekuatan sosial yang berjuang untuk membentuk bagaimana kita harus berpikir dan bertindak. Sedangkan realisme merupakan suatu mode yang telah ditentukan secara budaya, ideologis, dan penonton atau pembaca harus berjuang untuk memecahkan kode dari sistem teks atau berjuang untuk menyerapnya hingga menemukan suatu logika. Film realis telah diserang untuk strategi penyamarannya yang khayal dan dibuat seperti alami. Metz dan yang lain mulai untuk menganalisa keyakinan mengenai "impression of reality", yang dihasilkan oleh isyarat cinematic yang kuat, dan langkah kedua mengenai structuralisme, lebih tertarik akan intertextual dan extratextual kode spectatorship dan ideologi, yang menjadi komponen pusat dari teori naratif.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ahli teori naratif yang terus meningkat dan bergeser dari menjelaskan kejadian yang naratif, ke menjelaskan proses mengenal sebagai suatu kabar. Seorang ahli linguistik yang berpengaruh adalah Émil Benveniste. Bagi Benveniste, cerita (histoire) mencoba untuk menyembunyikan tanda komunikasinya, memperkenalkan dirinya sendiri dalam sesuatu yang bukan perseorangan, cara yang objektif. Sebagai pembanding, tulisan juga termasuk dalam narasi. Dalam literatur, perbedaan bisa disederhanakan menuju ke apakah penceritaan menggambarkan informasi tersebut sebagai fakta yang diberikan atau sebagai acuan referensi kepada seorang narator, seperti dalam " I-You." Proses penyampaian, ucapan, dan struktur penonton berhubungan dengan teks tersebut. Yang diumumkan selalu suatu produk ucapan/kabar, yang (mana), [seperti;suka] bahasa, adalah suatu proses sosial. Analis membongkar tanda komunikasi ini, yang (mana).
Penonton tidak hanya digambarkan oleh struktur visual dari film bioskop, tetapi naratif juga yang dievaluasi, mengenai bagaimana mereka memperkuat atau menantang isu budaya yang dominan. Jika penonton diposisikan secara visual, mereka juga diposisikan secara cultural di dalam struktur simbolis atau yang mythic dari ideologi yang dominan.
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam kehidupan sehari-hari terkadang terdapat kata-kata yang maknanya kita ciptakan sendiri, tergantung intonasi dan pengucapan kata-kata tersebut. Salah satunya yaitu kata terserah, kata terserah merupakan kata yang multi tafsir artinya kata tersebut memiliki bermacam-macam makna tergantung situasi dan kondisi penutur yang mengucapkan kata tersebut. Sering kali kata terserah menyebabkan kesalahpahaman jika kata tersebut digunakan dalam kontek tertulis seperti SMS, Chat, atau pun BBM. Karena makna kata terserah bisa ditafsirkan jika kata tersebut diucapkan secara lisan. Walaupun kata terserah memiliki makna yang multi tafsir, tetapi kata tersebut merupakan kata sederhana yang sering digunakan sehari-hari yang mampu mewakili pikiran dan perasaan penuturnya. Seperti berbagai situasi tutur berikut.
Ketika kata terserah diucapkan karena anda dalam kondisi yang bingung harus berucap apa. Misalnya kalimat sebuah pertanyaan, “ Hari libur ini, bagaimana kalo kita pergi ke pantai ?” dan ketika anda menjawab “terserah”, bisa jadi si penanya akan merasa pertanyaanya tidak diperdulikan karena yang dikehendaki oleh si penanya sebenarnya adalah sebuah opsi dan bukan sebuah jawaban yang mengawang-awang. Padahal bagi anda sendiri mungkin saja pertanyaan itu sebenarnya cocok dengan keinginan anda. Namun karena sebuah kebingungan yang bisa saja ditimbulkan oleh adanya masalah lain sehingga membuat anda mengeluarkan sebuah jawaban “Terserah” yang dinilai sebuah ketidak jelasan.
Contoh lain misalnya, Seorang suami menyerahkan sejumlah uang kepada istrinya, sambil  berkata dengan lembut, “Terserah ibu, mau digunakan untuk apa uang ini”. Kata “terserah” di sini menggambarkan ketulusan seorang suami kepada istri untuk mengelola keuangan.
Kata terserah yang di ucapkan dengan intonasi biasa atau normal, bisa saja bermakna positif atau negatif, tergantung dari kalimat pertanyaanya atau pendukungnya, misalnya saja anda sedang ditanya atau ditawari, “Anda mau makan apa ? kemudian anda menjawab, “terserah saja “ pun dengan intonasi yang rendah. Ketika anda menjawab dengan kata “Terserah saja” dari sudut pandang anda yang positif, bisa jadi anda memang mempercayakan kepada si penanya mengenai makanan apa yang akan diberikan kepada anda. Dan ketika makanan itu datang dan disediakan kepada anda, maka anda tidak berhak untuk protes. Namun kondisi itu berlaku sekiranya level sudut pandang antara si penanya dengan anda berada pada kondisi dan konteks yang sama. Dan  ketika sudut pandang tidak pada level yang sama, maka kalimat “terserah saja” yang anda ucapkan tadi akan bermakna sebuah ketidakpastian dan keragu-raguan serta dirasakan tidak bermakna atensi atau perhatian sama sekali.
Dengan memperhatikan level sudut pandang, seharusnya kita bisa menempatkan posisi, intonasi serta kejelasan dalam menggunakan kata terserah sehingga pesan yang terkandung dapat terkirim dan ditangkap dengan baik oleh lawan bicara.
Tentunya setiap kali kita mendengar dan mengunakan kata terserahuntuk hal-hal yang bertujuan positif, harus benar-benar melihat situasi kepada siapa kita hendak mengeluarkan kata-kata tersebut. Atau memaknai kata terserah dengan menambahkan kata atau kalimat pemanis, sehingga lebih menimbulkan efek sopan dan tidak menimbulkan persepsi yang negatif kepada si penanya. Apalagi ketika penggunaan kata tersebut untuk komunikasi formal dan juga komunikasi tidak langsung.
Menurut people quote TSDC, alasan kenapa laki-laki suka dengan kata terserah, karena tipe laki-laki yang tidak  mau ribet oleh perempuan dan hal lainnya jadi laki-laki suka bilang terserah. Ya seperti TSDC (Terserah Saya Dot Com), Yang penting kamu suka.
Dalam kamus besar bahasa Indoseia pun makna kata terserah sangat beragam yaitu yang pertama kata terserah berkategori nomina berarti sudah diserahkan (kpd); pulang maklum (kpd); tinggal bergantung (kpd); contoh kalimat hal itu terserah kepada anda. Arti yang kedua yaitu yang berkategori adjektiva yang memiliki makna masa bodoh, contoh kalimat usul saya diterima atau tidak, terserah anda.
Untuk keadaan tertentu, sebaiknya kita tidak menggunakan kata terserah, misalnya untuk menghindari kesan melepas tanggung jawab. Gantilah dengan kata/kalimat lain yang lebih tepat. Misalnya saya serahkan semua kepada Anda keputusannya, saya akan menerima apapun keputusan yang diambil. Intinya adalah menyerahkan keputusan kepada orang lain, tanpa terkesan melecehkan atau kesan negatif lainnya.
Kata terserah sebaiknya digunakan ketika kita benar-benar ada di persimpangan, atau sedang menghadapi beberapa pilihan. Dalam hal ini, kita memberikan orang lain untuk mengambil keputusan. Namun hal itu bukan untuk melempar tanggungjawab, atau menyerahkan dengan pemaksanaan. Kita memberi kesempatan orang lain untuk mengambil keputusan sesuai kemampuan mereka.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, kita sebagai penutur atau pun lawan tutur harus mampu membedakan makna kata terserah dalam berbagai situasi tutur. Sehingga tidak ada perbedaan tafsiran terhadap makna kata tersebut.



BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN
Dari pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa,
Ø    Kata adalah kumpulan beberapa huruf yang memiliki makna tertentu
Ø    Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata
Ø    sebuah kata juga memiliki makna tunggal maupun jamak, makna jamak itulah yang di sebut dengan multi tafsir.
Ø    Penggunaan intonasi menandakan suasana hati penuturnya. Intonasi juga dapat menandakan ciri-ciri sebuah kalimat.
Ø    Komunikasi adalah aktivitas sosial yang dilakukan oleh setiap penutur bahasa.
Ø    Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang menyatakan fungsi pragmatis tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam pentuturan.
Ø    Kata terserah memiliki makna yang multi tafsir tergantung intonasi dan pelapalan penutur yang bersangkutan.

B.     SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyarankan bahwa dalam penafsiran kata terserah harus benar-benar dipikirkan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara penutur dan lawan tutur.


DAFTAR PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Idonesia


Jumat, 08 Maret 2013

komponen-komponen analisis kesalahan berbahasa


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam bukunya yang berjudul “Common Error in Language Learning” H.V. George mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan (unwanted form) khususnya suatu bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa.
Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang dari kaidah bahasa baku. Hal ini sesuai dengan pendapat Albert Valdman yang mengatakan bahwa yang pertama-tama harus dipikirkan sebelum mengadakan pembahasan tentang berbagai pendekatan dan analisis kesalahan berbahasa adalah menetapkan standar penyimpangan atau kesalahan.
Beberapa Pandangan terhadap Kesalahan Berbahasa Kesalahan berbahasa adalah suatu peristiwa yang bersifat inheren dalam setiap pemakaian bahasa baik secara lisan maupun tulis.
Baik orang dewasa yang telah menguasai bahaasanya, anak-anak, maupun orang asing yang sedang mempelajari suatu bahasa dapat melakukan kesalahan-kesalahan berbahasa pada waktu mereka menggunakan bahasanya. Namun, jenis serta frekuensi kesalahan berbahasa pada anak-anak serta orang asing yang seedang mempelajari suatu bahasa berbeda dengan orang dewasa yang  telah menguasai bahasanya
Sebagai seorang guru atau calon guru yang sedang berpraktik mengajarkan bahasa Indonesia, apabila diperhatikan dengan saksama, Kita akan menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa. Kesalahan-kesalahan itu ternyata dapat Kita pilah dalam dua kategori, yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan dan kesalahan dalam bidang linguistik. Kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan terjadi pada saat siswa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan kesalahan dalam bidang linguistik meliputi tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi), sintaksis, dan leksikal. Kesalahan dalam bidang lingustik tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bab selanjutnya.
1.2  Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam makalah ini yaitu “apa saja yang menjadi komponen-komponen analisis kesalahan berbahaa?”

1.3  Tujuan Masalah
Sedangkan tujuan masalah dalam makalah ini yaitu untuk mengeahui berbagai komponen analisis kesalahan berbahasa.
















BAB II
KOMPONEN-KOMPONEN ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

Untuk mengetahui perihal analisis kesalahan berbahasa, kita dapat mempelajari sejumlah komponen analisis itu. Berdasarkan komponen bahasa, kesalahan berbahasa dikomponenkan menjadi kesalahan yang terjadi pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikal.

2.1  Kesalahan Fonologi
Kesalahan berbahasa Indonesia dalam bidang fonologi pertama-tama dipandang dari penggunaan bahasa secara lisan maupun secara tulisan. Dari kombinasi kedua sudut pandang itu ditemukan aneka jenis kesalahan berbahasa. Sebagian besar kesalahan berbahasa Indonesia di bidang fonologi berkaitan dengan pengucapan. Tentu saja bila kesalahan berbahasa lisan ini dituliskan maka jadilah kesalahan berbahasa itu dalam bahasa tulis. Ada kesalahan berbahasa karena perubahan pengucapan fonem, penghilangan fonem, penambahan fonem, salah meletakkan penjedaan dalam kelompok kata dan kalimat. Di samping itu kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi dapat pula disebabkan oleh perubahan bunyi diftong menjadi bunyi tunggal atau fonem tunggal. 
1)      Kesalahan Ucapan 
Kesalahan ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga menyimpang dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan makna.
Contoh: 
ü    enam menjadi enem
ü    saudara menjadi sodara
ü    telur menjadi telor 
ü    alasan menjadi alesan 
ü    hilang menjadi ilang 


2)      Kesalahan Ejaan 
Kesalahan ejaan adalah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan dalam menggunakan tanda baca. 
Contoh: 
ü    Tuhan Yang Mahakuasa ditulis  Tuhan Yang Maha Kuasa 
ü    Mengetengahkan ditulis mengketengahkan 
ü    Mempertanggungjawabkan ditulis mempertanggung jawabkan .

2.2  Kesalahan Morfologi 
Kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi sebagian besar berkaitan dengan bahasa tulis. Tentu saja kesalahan berbahasa dalam bahasa tulis ini berkaitan juga dengan bahasa lisan apalagi bila kesalahan berbahasa dalam penulisan morfologi itu dibacakan. Kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi disebabkan oleh berbagai hal. Kesalahan berbahasa bidang morfologi dapat dikelompokkan menjadi kelompok afiksasi, reduplikasi, dan gabungan kata atau kata majemuk.
1)      Kesalahan Berbahasa pada Afiksasi 
Kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal berikut: 
a)      Pertama, kesalahan berbahasa karena salah menentukan bentuk asal. Misalnya bentuk gramatik himbau, lola, lanjur, lunjur dianggap sebagai bentuk asal. Padahal bentuk asal yang benar adalah imbau, kelola, anjur, unjur. 
b)      Kedua, fonem yang seharusnya luluh dalam proses afiksasi tidak diluluhkan. Misalnya fonem /t/ dalam kata terjemah dan tumisseharusnya luluh apabila kedua kata itu bergabung dengan morfem meN-. Dalam kenyataannya penggunaan bahasa kedua fonem itu tidak diluluhkan sehingga terbentuk kata kompleks menterjemahkan dan mentumis. Hasil pengafiksasian seharusnya menerjemahkan dan menumis. 
c)      Ketiga, fonem yang seharusnya tidak luluh dalam proses afiksasi justru diluluhkan. Misalnya Fonem /f/ dalam kata fitnah, seharusnya menjadi memfitnah bukan memitnah. 
d)     Keempat, penyingkatan morfem men-, meny-, meng-, dan menge- menjadi n-, ny-, ng-, dan nge-. Dalam penggunaan bahasa, mungkin karena pengaruh bahasa daerah, morfem men-, meny-, meng-, dan menge- disingkat menjadi n-, ny-, ng-, dan nge- dalam pembentukan kata kerja. Hal ini tentu menimbulkan kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi.
Contoh:
ü    Men- + tatap menjadi natap, seharusnya menatap.
ü    Meny- + sapu menjadi nyapu, seharusnya menyapu.
ü    Meng- + ajar menjadi ngajar, seharusnya mengajar.
ü    Meng- + bor menjadi ngebor, seharusnya mengebor.
2)      Kesalahan Berbahasa pada Reduplikasi
Kesalahan ini disebabkan oleh hal-hal berikut: 
a)      Pertama, kesalahan berbahasa disebabkan kesalahan dalam menentukan bentuk dasar yang diulang. Misalnya bentuk gramatik mengemasi diulang menjadi mengemas-kemasi yang seharusnya mengemas-ngemasi.
b)      Kedua, kesalahan berbahasa terjadi karena bentuk dasar yang diulang seluruhnya hanya sebahagian yang diulangi. Misalnya bentuk gramatik kaki tangan diulang menjadi kaki-kaki tangan yang seharusnya diulang seluruhnya, yakni kaki tangan-kaki tangan.
c)      Ketiga, kesalahan berbahasa terjadi karena menghindari perulangan yang terlalu panjang. Misalnya bentuk gramatik orang tua bijaksana diulang hanya sebahagian yakni, orang-orang tua bijaksana. Seharusnya perulangannya penuh, yakni orang tua bijaksana-orang tua bijaksana.
3)      Kesalahan Berbahasa pada Gabungan Kata atau Kata Majemuk
Kesalahan berbahasa terjadi dalam penggabungan sebagai berikut:
a)      Pertama, gabungan kata yang seharusnya serangkai dituliskan tidak serangkai. Kata majemuk yang ditulis serangkai ini dapat dikenali dengan salah satu unsurnya. Unsur-unsur seperti anti, antar, ekstra, infra, inter, baku, supra dan lain-lain, merupakan tanda bahwa paduan kata dengan kata tersebut di atas adalah kata majemuk yang ditulis serangkai. Misalnya antikarat, antaruniversitas, ekstrakulikuler, infrastruktur, internasional, bakuhantam, suprasegmental, dan sebagainya.
b)      Kedua, kesalahan berbahasa terjadi karena kata majemuk yang seharusnya ditulis terpisah, sebaliknya ditulis bersatu. Misalnya kata majemuk yang ditulis bersatu ini rumahsakit, tatabahasa, dan matapelajaran seharusnya ditulis terpisah seperti berikut rumah sakit, tata bahasa, dan mata pelajaran.
c)      Ketiga, kesalahan berbahasa terjadi karena kata majemuk yang sudah berpadu jika diulang, maka seluruhnya harus diulang. Ternyata dalam penggunaan bahasa hanya sebahagian yang diulang. Misalnya, segi-segitiga, mata-matahari, dan bumi-bumi putra dituliskan secara lengkap menjadi segitiga-segitiga, matahari-matahari, dan bumi putra-bumi putra.
d)     Keempat, kesalahan berbahasa terjadi karena proses prefiksasi atau sufiksasi dianggap menyatukan penulisan kata majemuk yang belum padu. Misalnya proses afiksasi ber- pada kata majemuk bertanggungjawab seharusnya ditulis bertanggung jawab.

2.3  Kesalahan Sintaksis 
Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frase, klausa, atau kalimat. Analisis kesalahan dalam bidang sintaksis ini menyangkut urutan kata, kepaduan susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat.
1)      Kesalahan pada Bidang Frase
Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya segi frasa, antara lain sebagai berikut:
a)      Pengunaan kata depan tidak tepat.
Contoh:
ü    di masa itu seharusnya - pada masa itu
ü    di waktu itu - pada waktu itu
b)      Penyusunan frasa yang salah struktur.
Contoh: 
ü    belajar sudah seharusnya - sudah belajar 
ü    habis sudah - sudah habis
c)      Penambahan yang dalam frasa benda (B+S)
Contoh:
ü    guru yang profesional seharusnya - guru profesional
ü    anak yang saleh seharusnya - anak saleh
d)     Penambahan kata dari atau tentang dalam Frasa Benda (B+B)
Contoh:
ü    gadis dari Bali seharusnya - gadis Bali
ü    cerita tentang anak jalanan - cerita anak jalanan
e)      Penambahan kata kepunyaan dalam Frasa Benda (B+Pr)
Contoh: buku kepunyaan Ani seharusnya menjadi buku Ani.
2)      Kesalahan bidang klausa
Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya segi klausa terjadi adanya penambahan preposisi di antara kata kerja dan objeknya dalam klausa aktif. Contoh: Rakyat mencintai akan pemimpin yang jujur. Seharusnya kalimat tersebut menjadi rakyat mencintai pemimpin yang jujur. 
3)      Kesalahan bidang Kalimat 
Kesalahan yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya dari segi kalimat antara lain sebagai berikut:
a)      Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa daerah. Berbahasa Indonesia dalam situasi resmi kadang-kadang tanpa disadari menerapkan struktur bahasa daerah. Seperti Amin pergi ke rumahnya Rudi. Kalimat tersebut terpengaruh struktur bahasa daerah. Oleh karena itu, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Amin pergi ke rumah Rudi.
b)      Penggunaan kalimat yang tidak logis. Contoh: Buku itu membahas peningkatan mutu pendidkan di Sekolah Dasar. Kalimat tersebut tidak logis karena tidak mungkin bukumempunyai kemampuan membahas peningkatan mutu pendidikan SD. Oleh karena itu, kalimat tersebut perlu diperbaiki menjadiDalam buku itu dibahas tentang peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar. Atau Dalam buku itu, pengarang membahas peningkatan mutu pendidikan diSekolah Dasar.
c)      Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa asing. Kata di mana, yang mana, dengan siapa, adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam membuat kalimat tanya. Kata-kata tersebut bila digunakan di tengah kalimat yang fungsinya bukan menanyakan sesuatu merupakan pengaruh bahasa asing. Dengan demikian, perlu dihindari penggunaan di mana, yang mana, dengan siapa diganti dengan kata bahasa Indonesia. Contoh:Rumah di mana dia bermalam, dekat dari pasar. Kalimat tersebut dapat diubah menjadi rumah tempat dia bermalam, dekat dari pasar.

2.4  Kesalahan Leksikon
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:902), leksikon adalah kosakata. Dengan demikian, kesalahan leksikon dapat diartikan sebagai kesalahan dalam kosa kata, pemakaian kata yang tidak atau kurang tepat. Istilah leksikon ini lazim digunakan dalam bidang semantik. Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna atau struktur makna. Sehubungan dengan analisis kesalahan berbahasa yang berkaitan dengan bidang semantik, Tarigan mengemukakan kesalahan berbahasa yang mungkin terjadi di bidang semantik adalah seperti berikut: 
1)      Adanya Penerapan Gejala Hiperkorek
Gejala hiperkorek adalah suatu bentuk yang sudah betul lalu dibetul-betulkan lagi dan akhirnya menjadi salah. Misalnya, Syarat dijadikan sarat ’ atau sebaliknya, padahal kedua kata itu masing-masing mempunyai arti yang berbeda. Syarat ‘ketentuan/aturan’sarat ‘penuh’.
Contoh dalam kalimat: 
ü    Kita harus mengikuti syarat itu.
ü    Perahu itu sarat muatan.
2)      Gejala Pleonasme 
Yang dimaksudkan gejalan pleonasme adalah suatu penggunaan unsur-unsur bahasa secara berlebihan.
Contoh: 
ü    Lukisanmu sangat indah sekali. Seharusnya Lukisanmu sangat indah atau indah sekali. 
ü    Dia bekerja demi untuk keluarganya. Seharusnya: Dia bekerja demi keluarganya, atau untuk keluarganya.





























BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Berdasarkan komponen bahasa, kesalahan berbahasa dikomponenkan menjadi kesalahan yang terjadi pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikal.
1)      Kesalahan yang terjadi pada tataran fonologi karena adanya perubahan pengucapan fonem, penghilangan fonem, penambahan fonem, salah meletakkan penjedaan dalam kelompok kata dan kalimat. Di samping itu kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi dapat pula disebabkan oleh perubahan bunyi diftong menjadi bunyi tunggal atau fonem tunggal.
2)      Kesalahan berbahasa pada tataran morfologi dapat dikelompokkan menjadi kesalahan berbahasa pada afiksasi, reduplikasi, dan gabungan kata atau kata majemuk. 
3)      Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frase, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. 
4)      Kesalahan pada tataran leksikon dapat diartikan sebagai kesalahan dalam kosa kata, pemakaian kata yang tidak atau kurang tepat. Istilah leksikon ini lazim digunakan dalam bidang semantik. Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna atau struktur makna.

3.2  Saran 
Kesalahan berbahasa merupakan bagian yang integral dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua. Kesalahan itu bukan untuk dihindari atau dicaci maki melainkan sesuatu yang harus dipelajari. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah parameter atau alat ukur kesalahan berbahasa. Penggunaan bahasa Indonesia di luar parameter tersebut adalah bentuk kesalahan berbahasa. Dengan analisis kesalahanberbahasa, hal itu dapat diketahui.
Hasilnya dapat digunakan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi dan meningkatkan keberhasilan anak dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa Indonesia. Kesalahan berbahasa dapat dijadikan umpan balik bagi pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa, sikap kedwibahasaan, interferensi dan kesalahan-kesalahan berbahasa apabila analisis kesalahan berbahasa itu dilaksanakan.